logo mahkamah agung website ramah difable

Sowan Kepada Mantan Ketua MIT Surakarta

Surakarta | pasurakarta.go.id

Hari ini Minggu, 4 Nopember 2012, seusai menikmati Solo Car Free Day dengan berolah raga dan sarapan, saya mendatangi bangunan di Jalan Slamet Riyadi Solo No. 308 atau seberang Stadion R Maladi (tempat PON pertama kali di Indonesia tahun 1948). Bangunan itu merupakan bekas  Hof voor Islamietische Zaken atau Mahkamah Islam Tinggi (MIT) Surakarta. Yaitu lembaga peradilan tingkat banding dalam perkara ahwal syakhshiyyah bagi umat Islam yang bertempat tinggal di Jawa dan Madura. MIT Surakarta berdiri tahun 1937 berdasarkan Staatsblad No. 610 dan beroperasi

sampai dibubarkannya tahun 1987. Sejak tahun 1987 didirikan lembaga peradilan tingkat banding di tiap-tiap Propinsi. MIT Surakarta kemudian menjelma menjadi Pengadilan Tinggi Agama (PTA) dan dipindahkan ke Semarang sebagai ibukota Propinsi Jawa Tengah. Bekas bangunannya dialihfungsikan menjadi masjid.

Setelah menelusuri bekas ruang-ruang MIT, mengamati-amati barang-barang antik seperti keramik, kaca dan kayu serta mengambil gambar seperlunya, saya melanjutkan kunjungan ke tokoh yang pernah memimpin bangunan cagar budaya itu. Namanya Drs. H. Thoyib Mangkupranoto.

Mbah Thoyib tinggal di Jalan KH. Samanhudi No. 129 Solo. Jarak rumah beliau dari bekas bangunan MIT sekitar 10 menit dengan motor. Setelah memperkenalkan diri, saya dipersilakan duduk. Beliau begitu senang menyambut kehadiran saya. Kesan saya, Mbah Thoyib betul-betul rojulun thoyib (orang baik). Meskipun usianya sudah 78 tahun, kesehatannya sudah menurun dan bahkan untuk berjalan beliau harus berpegangan tongkat, namun ingatan beliau masih kuat.

Saya sampaikan kepada Mbah Thoyib bahwa saya sengaja bersilaturrahmi kepada beliau sebagai seorang yunior kepada senior atau sebagai seorang anak kepada bapaknya. Meskipun baru kenal dan baru pertama bertemu, saya merasa dekat dengan beliau. Banyak hal yang saya tanyakan, dan beliau pun menjelaskannya dengan penuh semangat. Saya mencatat setiap penjelasan beliau yang memiliki nilai historis.

Bangunan Bekas MIT Surakarta (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Saya bertanya, Mbah Thoyib menjelaskan (Dok. Fahrurrozi Zawawi)

Mbah Thoyib lulusan Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) Yogyakarta, Jurusan Hakim, tahun 1956. Menurut beliau, pada tahun 1956 minat orang untuk melamar menjadi hakim sangat rendah. Saat itu, kehidupan hakim sangat mengenaskan, makanya sedikit sekali yang mau menjadi hakim. Meskipun demikian, Mbah Thoyib menjatuhkan pilihan hidupnya di dunia peradilan. Beliau mengawali karir sebagai staf pada Biro Peradilan Agama di Jakarta, lalu menjadi Panitera Kepala Mahkamah Syar’iyah Padang.

Pada tahun 1970, Mbah Thoyib meraih gelar Doctorandus (Drs) dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sejak tahun 1972, Mbah Thoyib ditugaskan di MIT Surakarta sebagai Hakim, kemudian pada tahun 1973 dilantik sebagai Wakil Ketua dan pada tahun 1982 dilantik sebagai Ketua MIT Surakarta. Beliau menceritakan betapa memprihatinkan keadaan Peradilan Agama pada tahun 70-an. Lantaran tidak ada atau minimnya anggaran, bangunan Peradilan Agama hanya seadanya saja. Misalnya, Pengadilan Agama Wonosari menempati bekas gudang gaplek, Pengadilan Agama Kudus harus menempati sebuah ruangan di depan Masjid Kudus seluas 4 x 8 meter bersama-sama dengan Kantor Urusan Agama.

Pengadilan Agama Surakarta pun setelah pindah dari Komplek Masjid Agung, hanya diberi lahan tanah di bekas kuburan. Pemerintah daerah cuma memberi tanah, sedangkan biaya pembongkaran kuburan diserahkan pihak Pengadilan. Karena bekas kuburan, di awal-awal menempati gedung baru itu ada seorang hakim perempuan bernama Kusmiyati yang tidak mau minum teh di kantor.

Pengadilan Agama Jepara juga sama nasibnya dengan Surakarta. Pengadilan Agama Jepara diberi sebidang tanah bekas kuburan Cina. Hanya saja lokasinya berada di puncak gunung. Bedanya, Surakarta menerima tanah bekas kuburan itu, sedangkan Jepara menolak sesuai saran Mbah Thoyib sebagai Ketua MIT Surakarta saat itu.

Selain gedung bangunan yang memprihatinkan, waktu itu belum ada kendaraan dinas untuk operasional kantor. Struktur organisasi juga belum diatur. Kepangkatan hakim dan pegawai sangat rendah, rata-rata I/a dan II/b. Baru pada tahun 1976 hakim di MIT dan peradilan tingkat pertama mendapat honorarium sebesar Rp 1.000,- (seribu rupiah) setiap bulan dan itupun baru bisa diambil setelah setahun berjalan. Betul-betul menyedihkan.

 Mbah Thoyib (tengah) bersama para Hakim MIT Surakarta (Dok. Thoyib Mangkupranoto)

 Setelah MIT dibubarkan tahun 1987, dan dibentuk PTA di tiap-tiap Propinsi, Mbah Thoyib ditugaskan sebagai Ketua PTA Surabaya (1987-1992), lalu menjadi Hakim Tinggi Pengawas di MA (1992-1995), kemudian menjadi Ketua PTA Yogyakarta sampai pensiun tahun 1999.

Di hari-hari tuanya, Mbah Thoyib aktif mengelola Yayasan Umat Islam Kaliyoso (Yaumika) dan Yayasan Masjid dan Pondok Pesantren Muttaqin Sondakan Solo. Selain itu, beliau juga rajin menulis. Ada beberapa buku yang sudah beliau tulis. Saya diberi hadiah 2 buku karya beliau berjudul Menumbuhkembangkan Agama Islam di daerah Bekas Perdikan di Surakarta dan buku berjudul Pandangan Islam terhadap Hukum Riba. Tidak hanya menulis buku, beliau juga memiliki hobi menulis puisi. Saya sempat diminta membacakan puisi karya beliau berjudul Selamat Hari Raya Idul Fitri. Puisi-puisi beliau banyak dimuat di Mimbar Hukum pada kolom Apresiasi.

Selain bercerita, Mbah Thoyib juga mengajak saya masuk ke kamar tidurnya untuk melihat album foto semasa beliau bertugas. Dengan telaten penuh kesabaran, beliau menerangkan foto demi foto.

Sebenarnya, 2 jam bersama Mbah Thoyib terasa masih kurang. Ada banyak hal lagi yang ingin saya tanyakan kepada beliau. Namun apa daya. Anak saya, Fayad, merengek-rengek ingin pulang. Padahal sejak masuk rumah pun, dia hanya duduk sebentar lalu bermain di luar. Maklum usianya belum genap 5 tahun. Maunya hanya bermain dan bermain. Dan, itu cocoknya suasana sepertiCar Free Day. Insyaallah, saya akan sowan lagi ke Mbah Thoyib.

 

 

 

Add comment

Terima Kasih Sudah Berkomentar dengan Baik


Security code
Refresh


Sistem Informasi Penelusuran Perkara

TypographyDengan diterbitkannya Surat Edaran Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum Nomor 3/DJU/HM02.3/6/2014 tentang Administrasi Pengadilan Berbasis Teknologi Informasi maka peran Aplikasi Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP Versi 3.1.3), selanjutnya disebut sebagai SIPP, menjadi semakin penting dan diandalkan untuk proses administrasi dan penyediaan informasi baik untuk pihak internal pengadilan, maupun pihak eksternal pengadilan. Pengunjung dapat melakukan penelusuran data perkara (jadwal sidang sampai dengan putusan) melalui aplikasi ini.

Lebih Lanjut

Pencarian Peraturan Perundangan, Kebijakan Peradilan dan Yurisprudensi

Pencarian Peraturan Perundangan, Kebijakan Peradilan dan Yurisprudensi Pencarian cepat data Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Mahkamah Agung Republik Indonesia

 

LPSE

TypographyLayanan Pengadaan Secara Elektronik Mahkamah Agung RI.

Kunjungi

E-LEARNING

TypographyE-Learning Mahkamah Agung RI

Kunjungi